Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 07 September 2010

IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DALAM KERANGKA MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
Kebermaknaan sekolah dapat dilihat dan dipandang dari alasan keberadaan sekolah sebagai institusi masyarakat. Artinya untuk apa adanya sekolah tersebut, kalau tidak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Maka menjadi hal yang tidak bermakna apabila sekolah tidak dapat memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.
Di antara sekian banyaknya tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap sekolah, salah satunya adalah agar peserta didik yang merupakan lulusan atau out come memiliki kemampuan yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat yang intinya memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kinerja peranan sekolah terhadap pemenuhan tuntutan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan sekali. Atas dasar itu pemerintah proaktif dengan kebijakan-kebijakan dalam bidang pendidikan yang diterapkan disekolah yang intinya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman.
Essensi dari penerapan kebijakan tersebut adalah untuk peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggungjawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Sedangkan tercapai atau tidaknya suatu kebijakan yang digulirkan tergantung dari pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan ( stake holders ) pada kebijakan tersebut.
Salah satu kebijakan pendidikan yang digulirkan adalah kebijakan otonomi sekolah. Sekolah sebagai institusi pendidikan diberikan peranan yang dinamis yang tentunya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat. Otonomi sekolah merupakan salah satu implementasi kebijakan dari Undang-undang Sistem pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Pengelolaan otonomi sekolah dikenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
Kebijakan otonomi sekolah dalam kerangka Manajemen Berbasis sekolah (MBS) akan lebih bermakna apabila didukung dengan sumber daya manusia yang sesuai dengan tuntutan, terutama sumber daya manusia dari para pihak yang terkait dan berkepentingan diantaranya adalah personal dari sekolah.
Personal sekolah yang sangat berperan dalam kegiatan pengelolalan sekolah terutama dalam penerapan kebijakan dan pemberian keputusan sekolah salah satunya adalah kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan seorang pemimpin. Mengapa? Karena seorang pemimpin akan mampu dan dapat mengimplementasikan upaya pengelolaan dan pembaharuan.
Atas dasar itu karya tulis ini bermaksud untuk mengangkat dan mencari bentuk alternatif kepemimpinan kepala sekolah dimana kepemimpinan tersebut diperlukan untuk menempati posisi yang strategis dalam keorganisasian sekolah sehingga pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dapat terlaksana sesuai dengan diharapkan dan tercipta pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien untuk memenuhi tuntutan dan tantangan kebutuhan perkembangan zaman.

1.2 IDENTIFIKASI, PEMBATASAN, RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat dikatakan bahwa masalah utama adalah masalah kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah adalah pimpinan tertinggi di sekolah. Pola kepemimpinannya akan sangat berpengaruh bahkan sangat menentukan terhadap kemajuan sekolah.
Pentingnya kepemimpinan kepala sekolah dalam pengelolaan sekolah adalah agar kepala sekolah dapat mengimplementasikan upaya-upaya pembaharuan dalam pendidikan sehingga tercipta sekolah yang efektif dan efisien.
Tanpa diikuti oleh kepemimpinan kepala sekolah yang aspiratif terhadap perubahan, upaya pembaharuan pendidikan seideal apapun tidak akan membawa hasil yang optimal.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah merupakan salah satu alternatif untuk menjawab tantangan pelaksanaan pengelolaan sekolah dalam kerangka manajemen berbasis sekolah untuk menciptakan sekolah yang efektif dan efisien.


1.2.2 Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dimaksudkan untuk lebih mempertajam pokok permasalahan, mengingat banyak faktor yang mempengaruhi terhadap permasalahan tersebut. Permasalahan pada karya tulis ini adalah implementasi kepemimpinan transformasional dalam kerangka manajemen berbasis sekolah untuk menciptakan pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien.
Untuk menghindari terlalu luasnya permasalahan, maka pada karya tulis ini perlu pembatasan masalah. Pembatasan masalah pada karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1. Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memeiliki tiga komponen yaitu karisma, konsideran individual, dan stimulasi intelektual. Seorang pemimpin transformasional mampu mengantarkan anak buahnya ke dalam suatu kesadaran yang tinggi dan dinamis
2. Manajemen berbasis sekolah adalah program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.
3. Sekolah yang efektif dan efisien adalah sekolah yang menunjukkan tingkat kinerja yang diharapkan dalam menyelenggarakan proses belajar mengajarnya, dengan menunjukkan hasil belajar yang bermutu pada peserta didiknya sesuai dengan tugas pokoknya sehingga tercapai tujuan dan sasaran pendidikan yang telah ditetapkan.
4. Permasalahan pokok pada karya tulis ini adalah implementasi kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam kerangka manajemen berbasis sekolah untuk menciptakan pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien.
1.2.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka rumusan masalahnya adalah : “ Bagaimanakah implementasi kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam kerangka manajemen berbasis sekolah untuk menciptakan pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien?”

1.3 TUJUAN
Tujuan kegiatan berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas adalah sebagai berikut :
1.3.1 Secara Praktis
1. Bagi kepala sekolah diharapkan dapat menjadi motivasi dalam peningkatan produktivitas kerja
2. Bagi warga sekolah akan tercipta pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang ideal.
3. Bagi penyusun diharapkan hasil hasil karya tulis ini dapat memberikan wawasan lebih mendalam tentang tipe kepemimpinan transformasional dalam kerangka manajemen berbasis sekolah untuk menciptakan pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien.
1.3.2 Secara teoritis
Untuk memberikan sumbangan pemikiran yang positif terhadap pengembangan ilmu khususnya manajemen pendidikan dan dapat menjadi dasar bagi pengembangkan karya tulis selanjutnya



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1. KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
Manusia merupakan makhluk sosial dan dalam interaksinya dalam kehidupan akan membentuk suatu kelompok, secara alami akan tumbuh seseorang atau individu yang dominan dalam kelompok tersebut untuk dijadikan tuntunan, seseorang atau individu tersebut disebut dengan pemimpin. Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan ( Nanang Fattah , 2004 : 88 ). Sedangkan kepemimpinan menurut Sadu Wasistiono ( 2006 : 2) : “ Kemampuan dan pengaruh, yaitu kemampuan mempengaruhi orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh pemimpin secara sukarela.”
Pemimpin dan kepemimpinan merupakan hubungan yang tak terpisahkan dimana pemimpin merupakan individu sedangkan kepemimpinan merupakan sifat individu pemimpin, atas dasar itu pemimpin mempunyai karakteristik tersendiri sifat-sifat kepemimpinannya. Kepemimpinan sangat dibutuhkan dalam hubungan sosial tersebut dimana hubungan sosial tersebut merupakan suatu organisasi salah satunya organisasi tersebut adalah sekolah dan pemimpinnya disebut dengan kepala sekolah.
Kepemimpinan kepala sekolah adalah cata atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa, dan pihak lain yang terkait untuk berperan serta mencapai tujuan sekolah.
Kepala sekolah sebagai pemimpin, kepemimpinannya dipengaruhi oleh variabel-variabel pembentuk kepemimpinan seperti diagram berikut :








( Sadu Wasistiono, 2006 : 2 )
Salah satu bentuk kepemimpinan yang diyakini dapat mengimbangi pola pikir dan refleksi paradigma-paradigma baru dalam arus globalisasi dirumuskan sebagai kepemimpinan transformasional yaitu suatu bentuk kepemimpinan yang diperkenalkan oleh Burn pada tahun 1978 ( Burn dalam Rumtini Iksan, 2002 : 690 ).
Dalam bidang kependidikan, seiring dengan upaya pembaharuan yang dilakukan, bentuk kepemimpinan juga penting untuk diformulasikan. Kepemimpinan transformasional berdasarkan kekayaan konseptual melalui karisma, konsideran individual, dan stimulasi intelektual diyakini akan mampu melahirkan pemikiran-pemikiran yang mengandung jangkauan ke depan, azas demokrasi, dan transparansi sehingga perlu kiranya untuk diadopsi ke dalam kepemimpinan kepala sekolah. Hal tersebut perlu mengingat dapat menunjang terhadap suksesnya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah atau bentuk pembaharuan lainnya sehingga tercipta sekolah yang efektif dan efisien.
Kepemimpinan transformasional mulai dirasakan perlu seiring dengan perubahan arah kebijakan dari sentralisasi ke otonomi daerah, dimana sekolah mempunyai peranan yang besar dan berarti dalam menentukan kebijakannya sendiri.
Seorang pemimpin transformasional menurut Conger, Benis dan Nunus dalam Rumtini Iksan ( 2002 : 695) ” Pemimpin yang mampu mengantarkan anak buahnya ke dalam suatu kesadaran yang tinggi dan dinamis.” Seorang atasan yang mempraktekan kepemimpinan transformasional dipandang sebagai pemimpin daripada seorang manajer ( Garder dalam Rumtini Iksan , 2002 : 695).
Kelebihan kepemimpinan transformasional dan kaitannya dengan paradigma kekinian dikemukakan di berbagai kalangan. Pendekatan transformasional sebagai pendekatan kepemimpinan abad 21, di mana dalam bidang pendidikan ditandai oleh perubahan paradigma pendidikan dan restrukturisasi sekolah. Dalam konteks tersebut kepemimpinan transformasional digambarkan sebagai bentuk kepemimpinan yang mampu meningkatkan komitmen staff, mengkomunikasikan suatu visi dan implementasinya, memberikan kepuasan dalam bekerja dan mengembangkan fokus yang berorientasi pada layanan dan menawarkan lebih pada kepemimpinan langsung di dalam suatu organisasi
2.2. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH ( MBS )
Manajemen Berbasis Sekolah merupakan sebuah model inovasi pendidikan yang menempatkan kewenangan pengelolaan sekolah dalam satu keutuhan entitas sistem dimana di dalamnya terkandung makna adanya desentralisasi kewenangan ( otonomi sekolah ) yang diberikan kepada pihak sekolah untuk membuat kebijakan sekolah berdasarkan pengambilan keputusan dari seluruh unsur yang berkepentingan ( stkaeholders ) terhadap sekolah atau dikenal sebagai shared decision making.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan konsep yang timbul akibat pergeseran paradigma pendidikan, yaitu pergeseran dari bureaucracy base management ke school and community base management.
Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menurut Dadi Permadi ( 2001 : 19 ) merupakan : “ Bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.” Sedangkan menurut Iim Wasliman (1991 : 3 ) “Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) merupakan konsep gagasan keleluasaan sekolah dalam menata kualitas sesuai dengan prioritas kebutuhan lingkungannya.”
Konsep-konsep tersebut essensinya memberikan dan menawarkan solusi upaya-upaya yang dapat dilakukan dari bawah ( bottom-up ) dari sekolah atau masyarakat jadi upaya yang dilakukan tersebut bukan atas intruksi dari atas tapi muncul atas dorongan dan kemauan dan kemampuan sendiri untuk mengelola potensi dan kemampuan sekolah tersebut dalam usaha meningkatankan mutu dan kualitas sekolah dan tentunya juga mutu dan kualitas lulusan sekolah.
Berdasarkan pengertian tersebut Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) adalah suatu konsep desentralisasi bidang pendidikan yang ditandai dengan adanya otonomi yang luas di tingkat sekolah, mengacu pada koridor dan kerangka kebijakan nasional.
Atas dasar konsep tersebut diharapkan dapat melahirkan sikap kepemilikan ( ownership ) dan kebanggaan ( pride ) dari para stakeholders terhadap sekolah. Kondisi ini sangat penting sebab sikap kepemilikan dan kebanggaan ini akan mendukung pengembangan sekolah selanjutnya. Selain itu sekolah dapat lebih leluasa mengelola sumber daya yang dimilikinya untuk mengarahkan pada skala prioritas sesuai kebutuhan masyarakat.
Implikasinya karena seluruh aspek dilibatkan maka masyarakatpun diharapkan berpartisipasi dalam pengelolaan sekolah dan memahami program sekolah dan dapat turut serta mengontrol pelaksanaannya. Dengan arti lain sekolah sebagai pusat perubahan dan pusat pendidikan serta budaya ( center of change ) sesuai dengan Wawasan Wiyatamandala keberadaannya harus bertumpu dan dimiliki oleh masyarakat yang menggunakan jasa pendidikan ( customer ) dan sekolah sebagai penyedia layanan jasa ( service provider ). Apabila hal itu terjadi, maka akan muncul kualitas kontrol terhadap kinerja sekolah dan sekolah mau tidak mau harus dapat memberikan jaminan mutu ( quality assurance ) untuk memenuhi kepuasan pelanggannya ( customer satisfication ).
Manajemen berbasis sekolah memiliki karakteristik yang harus dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. Karakteristik yang dimaksud meliputi seluruh komponen pendidikan dan perlakuannya pada setiap tahap pendidikan baik masukan ( input ), proses maupun hasil (output) pendidikan.

2.3. SEKOLAH EFEKTIF DAN EFISIEN
Sekolah merupakan suatu institusi yang di dalamnya terdapat komponen guru, siswa, dan staf administrasi yang masing-masing mempunyai tugas tertentu dalam mencapai program atau tujuan. Keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan merupakan ukuran bersifat mikro yang didasarkan pada tujuan dan sasaran pendidikan pada tingkat sekolah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional serta sejauhmana tujuan itu dapat dicapai pada periode tertentu sesuai dengan lamanya pendidikan yang berlangsung di sekolah.
Sekolah disebut efektif dan efisien jika sekolah dapat mencapai apa yang telah direncanakan. Pengertian secara umum mengenai sekolah efektif dan efisien menurut Wayan Koster ( 2001 : 473 ) : “ Berkaitan dengan perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa yang telah dicapai.”
Ciri-ciri sekolah efektif menurut Jaap Scheerens ( dalam Wayan Koster ,2001 : 473 ) diantaranya : “(1) kepemimpinan yang kuat; (2) penekanan pada pencapaian kemampuan dasar; (3) adanya lingkungan yang nyaman; (4) harapan yang tinggi pada prestasi siswa; (5) dan penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa.
Sekolah yang efektif menurut Budi Raharjo ( 2003 : 10 ) biasanya memiliki proses pendidikan sebagai berikut : (1) proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi; (2) kepemimpinan sekolah yang tangguh; (3) lingkungan sekolah yang aman, tertib dan nyaman; (4 ) pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif; (5) sekolah memiliki budaya mutu; (6) sekolah memiliki kebersamaan yang kompak; (7) sekolah memiliki kewenangan; (8) partisipasi warga sekolah dan masyarakat; (9) ketertebukaan (transfaransi) manajemen; (10) sekolah memiliki kemauan untuk berubah; (11) sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan; (12) sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan; (13) komunikasi yang baik; (14) dan sekolah memiliki akuntabilitas.




BAB III
PEMBAHASAN

3.1 GAMBARAN RUANG LINGKUP
Sekolah sebagai suatu organisasi tidak hanya membutuhkan seorang manajer untuk mengelola sumber daya sekolah yang lebih banyak berkosentrasi dan berkutat pada permasalahan anggaran dan persoalan administratif. Sekolah memerlukan juga seorang pemimpin yang mampu menciptakan sebuah visi dan mengilhami staf dan semua komponen yang terkait dengan sekolah.
Organisasi sekolah bukanlah sebagai organisasi nirlaba yang semata-mata mencari keuntungan melainkan organisasi moral atas dasar itu keberhasilan organisasi sekolah ditentukan oleh kerjasama semua pihak yang terkait dan berkepentingan dengan sekolah diantaranya kepala sekolah dan tenaga kependidikan. Hal tersebut membawa konsekwensi logis bahwa kepala sekolah berkewajiban mengkoordinasikan ketenagaan di sekolah untuk menjamin terlaksananya kegiatan sekolah sesuai dengan aturan dan perudangan yang berlaku.
Dalam sistem pendidikan nasional, kepala sekolah merupakan administrator pendidikan yang langsung berhadapan dengan sasaran sistem pendidikan nasional yaitu siswa. Dalam kapasitasnya sebagai manajer sekolah, kepala sekolah bertanggungjawab terhadap keberhasilan siswa dan juga kelancaran proses belajar mengajar di tingkat sekolah.
Hal tersebut di atas merupakan salah satu wujud tingkatan manajemen pendidikan yang cukup penting tetapi masih kurang tersentuh seperti diantaranya adalah kepemimpinan kepala sekolah tersebut. Sesungguhnya, sebesar apapun input persekolahan ditambah atau diperbaiki, outputnya tetap tidak akan optimal, apabila faktor kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan aspek yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar tidak terperhatikan.
Alasan tersebut dapat dimengerti dikarenakan pada akhirnya kepala sekolah adalah pengelola terdepan yang memutuskan dapat atau tidaknya setiap input berproses dan berinteraksi secara positif dalam sistem belajar mengajar. Kepala sekolah memiliki peluang yang besar untuk mendorong atau menghambat upaya inovasi baik yang berasal dari luar maupun yang timbul dari dalam sekolahnya.
Kepemimpinan kepala sekolah ternyata memegang peranan penting untuk menjadikan suatu sekolah efektif dan efisien. Konsep sekolah efektif dan efisien sendiri mempunyai pengertian berkaitan dengan perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa yang telah dicapai dan terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh sekolah
Konsep sekolah efektif dan efisien tidak saja dalam kaitan meningkatkan mutu pendidikan tetapi sejalan juga dengan dengan kebijakan nasional yaitu desentralisasi pendidikan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Konsep kebijakan tersebut pemerintah tidak hanya berharap pada meningkatnya mutu pendidikan melainkan juga tercapainya pemerataan, relevansi, dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan.
Dengan adanya otonomi sekolah yang dikenal manajemen berbasis sekolah, diharapkan sekolah dapat lebih leluasa mengelola sumber daya pendidikan dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta sekolah dapat lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat dan mampu melibatkan masyarakat dalam membantu dan mengontrol pendidikan pada tingkat sekolah.

3.2 PENERAPAN DAN PEMECAHAN MASALAH
Pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien dalam kerangka manajemen berbasis sekolah memerlukan seorang kepala sekolah yang mampu menjadi pemimpin dan manajer. Seorang kepala sekolah merupakan manajer dan pemimpin namun belum tentu mempunyai sifat kepemimpinan. Kepemimpinan dapat terbentuk apabila ada bakat, kemampuan dan kesempatan.
Sekolah sebagai suatu unit organisasi dalam pengelolaannya akan berjalan efektif dan efisien apabila dipimpin oleh pemimpin yang mempunyai sifat kepemimpinan yang mempunyai kapabilitas, akseptabilitas dan kompabilitas.
Menurut Sadu Wasistiono (2006 : 3) “ Kapabilitas kepemimpinan adalah gambaran kemampuan diri si pemimpin baik intelektual maupun moral yang dapat dilihat dari catatan jejak (track record) pendidikannya maupun jejak sikap dan perilakunya selama ini.” Sedangkan pengertian akseptabilitas kepemimpinan menurut Sadu Wasistiono (2006 : 3) “ Gambaran tingkat penerimaan pengikut terhadap kehadiran pemimpin.” Masih menurut Sadu Wasistiono (2006 : 3) “ Kompabilitas kepemimpinan adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan dari pejabat tingkat atasnya dan mengakomodasikan tuntutan dari para pengikutnya.”
Mengingat pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dimana manajemen berbasis sekolah merupakan sebuah model inovasi pendidikan yang menempatkan kewenangan pengelolaan sekolah dalam satu keutuhan entitas sistem dimana di dalamnya terkandung makna adanya desentralisasi kewenangan ( otonomi sekolah ) yang diberikan kepada pihak sekolah untuk membuat kebijakan sekolah berdasarkan pengambilan keputusan dari seluruh unsur yang berkepentingan ( stkaeholders ) terhadap sekolah atau dikenal sebagai shared decision making maka peranan kepemimpinan kepala sekolah memegang peranan yang sangat penting.
Kepemimpinan transformasional merupakan salah satu alternatif untuk menyikapi hal tersebut. Kepemimpinan transformasional sendiri mempunyai tiga komponen menurut Rumtini Iksan ( 2002 : 696 ) yaitu :
1. Karisma
Karisma merupakan suatu gambaran seorang pemimpin yang didalamnya termuat perasaan cintan dari anak buah bahkan bawahan merasa percaya diri dan saling mempercayai dibawah pimpinannya.
2. Konsideran individual
Seorang pemimpin akan memperhatikan faktor-faktor individual sebagaimana tidak boleh disamaratakan karena adanya perbedaan, kepentingan, dan pengembangan diri yang berbeda satu sama lain.
3. Stimulasi intelektual
Kemampuan seorang pemimpin dalam menciptakan, menginterpretasikan, dan mengelaborasi simbol-simbol yang muncul dalam kehidupan, mengajak bawahan untuk berfikir dengan cara-cara baru.


3.3 ANALISIS PENERAPAN DAN PEMECAHAN MASALAH
Kepemimpinan transformasional yang terdiri atas tiga komponen karisma, konsideran individual, dan stimulasi intelektual dipandang sesuai untuk menyikapi kepemimpinan, kebijakan manajemen berbasis sekolah, dan penciptaan sekolah yang efektif dean efisien
Analisa yang mendukung pernyatan tersebut bahwa keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh ketiga komponen tersebut yang didalamnya terdapat :(1) kepribadian yang kuat; (2) memahami tujuan pendidikan dengan baik; (3) pengetahuan yang luas; (4) keterampilan profesional baik keterampilan teknis, keterampilan hubungan kemanusiaan, dan keterampilan konseptual.
Namun demikian prinsip-prinsip kepemimpinananpun perlu diperhatikan seperti : (1) konstruktif; (2) kreatif; (3) partisipatif; (4) kooperatif; (5) delegatif; (6) integratif; (7) rasional dan obyektif; (8) pragmatis; (9) keteladanan; (10) adaftabel dan fleksibel (Depdikbud, 2000 : 13).
Gaya kepemimpinan yang harus diterapkan kepala sekolah dalam kepemimpinan transformasional sangat tergantung kepada situasi dan kondisi staf yang dipimpinnya dan hal itu perlu diperhatikan, seperti skema berikut ini :
MOTIVASI STAF




KEMAMPUAN
STAF







Antara kepemimpinan dan manajerial tidak dapat dipisahkan. Kepemimpinan akan menjiwai manajer dalam melaksanakan tugasnya. Tugas kepala sekolah sering dirumuskan sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, dan motivator. Dalam melaksanakan ketujuh tugas itulah kepemimpinan akan diterapkan dengan kata lain kepemimpinan harus terpadu dalam pelaksanaan ketutujuh tugas tersebut. Selain itu keteladanan merupakan faktor penting artinya pemimpin harus dapat memberi contoh dalam berbuat sesuatu, pemimpin harus selalu membangkitkan semangat seluruh staf untuk mengajukan gagasan dan kemudian mewujudkannya, serta mendorong dan mendukung setiap staf untuk tampil menunjukkan kemampuannya.
Diharapkan implementasi kepemimpinan transformasional dengan tiga komponen dasar karisma. Konsideran individual, stimulasi intelektual dapat menjabarkan kebijakan manajemen berbasis sekolah dimana essensinya adalah desentralisasi kewenangan dalam penerapan kebijakan dan pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah setempat, oleh orang setempat dengan cara setempat (otonomi sekolah). Apabila hal itu terwujud maka akan tercipta sekolah yang pengelolaannya efektif dan efisien dengan ciri-ciri : (1) tujuan sekolah dinyatakan secara jelas dan spesifik; (2) pelaksanaan kepemimpinan pendidikan yang kuat oleh kepala sekolah; (3) ekspetasi guru dan staf tinggi; (4) ada kerjasama kemitraan antara sekolah, orang tua dan masyarakat; (5) adanya iklim positif dan kondusif bagi siswa untuk belajar.

BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1. SIMPULAN
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu hal yang sangat penting dan mendasar agar pengelolaan sekolah dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Mengapa ? Sebab kepala sekolah merupakan pimpinan tertinggi di sekolah. Pola kepemimpinannya akan sangat berpengaruh bahkan sangat menentukan terhadap kemajuan sekolah.
Pada prinsipnya kepala sekolah harus dapat mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa dan pihak yang terkait untuk bekerjasama guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Hal tersebut lebih diperjelas lagi dengan essensi manajemen berbasis sekolah yang menempatkan kewenangan pengelolaan sekolah dalam satu keutuhan entitas sistem dimana di dalamnya terkandung makna adanya desentralisasi kewenangan ( otonomi sekolah ) yang diberikan kepada pihak sekolah untuk membuat kebijakan sekolah berdasarkan pengambilan keputusan dari seluruh unsur yang berkepentingan ( stkaeholders ) terhadap sekolah atau dikenal sebagai shared decision making.
Kepemimpinan transformasional yang mempunyai tiga komponen berupa karisma, konsideran individual dan stimulasi intelektual merupakan salah satu bentuk alternatif kepemimpinan yang dianggap mampu menjawab tuntutan dan tantangan kebutuhan dan perkembangan zaman dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang menempatkan pemberian kewenangan pada pengambilan kebijakan dan keputusan di tingkat dasar, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi. Sehingga tercipta konsep gagasan keleluasaan sekolah dalam menata kualitas sesuai dengan prioritas kebutuhan lingkungannya.
Apabila hal tersebut terwujud diharapkan dari implementasi kepemimpinan transformasional dalam kerangka manajemen berbasis sekolah dapat terlaksana pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien yaitu sekolah yang mampu menunjukkan tingkat kinerja yang diharapkan dalam menyelenggarakan proses belajarnya dengan menunjukkan hasil belajar yang bermutu pada peserta didik sesuai dengan tugas pokoknya. Mutu pembelajaran dan hasil belajar yang memuaskan tersebut merupakan produk akumulatif dari seluruh layanan yang diberikan sekolah dan pengaruh dari iklim yang kondusif yang diciptakan di sekolah.


4.2. REKOMENDASI
Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang semakin meluas pada era otonomi daerah semakin menempatkan kepemimpinan transformasional pada posisi penting. Kepemimpinan transformasional melalui tiga unsurnya ( karisma, konsideran individual, dan stimulasi intelektual ) diperlukan dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sehingga dapat terlaksana pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien. Berdasarkan uraian yang telah di bahas masih mengindikasikasikan adanya bias yang berkaitan dengan konteks sosial budaya setempat. Perlu sebuah kajian lebih lanjut yang mendalam tentang kepemimpinan transformasional berkaitan dengan masalah sosial budaya sebab mau tidak mau latar belakang sosial dan budaya individu seorang pemimpin atau dalam hal ini kepala sekolah erat kaitannya dengan masalah sosial dan budaya tempat ia berada.


DAFTAR PUSTAKA


Budi Raharjo ( 2003 ). Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.

Dadi Permadi (2001). Manajemen Berbasis Sekolah dan Kepemimpinan Mandiri Kepala Sekolah. Bandung : Sarana Panca Karya Nusa

Depdikbud ( 2000 ). Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas ( 2003 ). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Depdiknas.

Iim Wasliman (1991). Pemberdayaan Manajemen Sistem Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (Artikel Majalah Pendidikan Koridor Dikmenum Edisi 3). Bandung : Koridor

Nanang Fattah (2004). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya

Rumtini Iksan (2002). Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah SLTP dan Korelasinya dengan Manajemen Instruksional di Beberapa Sekolah di Yogyakarta. (Artikel Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 038 September 2002). Jakarta : Balitbang Depdiknas.

Sadu Wasistiono (2006). Inovasi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Kerangka Manajemen Berbasis Sekolah (Makalah disampaikan pada seminar di Kabupaten Ciamis, selasa 21 Maret 2006)

Wayan Koster (2001). Analisis Komparatif Antara Sekolah Efektif dengan Sekolah Tidak Efektif. (Artikel Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 031 September 2001). Jakarta : Balitbang Depdiknas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar